Ucapan Imlek Dari Para Pemimpin Dunia, Isyaratkan Sinyal Positif Di Tengah Situasi Sulit –

Para analis China menilai, maraknya ucapan Tahun Baru Imlek dari para pemimpin dunia seperti Presiden AS Joe Biden, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres merupakan sinyal positif bagi persatuan dan persahabatan antar bangsa.

Ini adalah kali pertama Biden dan istri, Jill Biden mengucapkan Selamat Tahun Baru Imlek kepada warga Asia Amerika dan Kepulauan Pasifik.

Lewat pesan video yang diposting di Twitter pada Jumat (13/2), keduanya mengatakan seluruh tindakan rasisme, pelecehan, kejahatan rasial terhadap warga Asia Amerika dan Kepulauan Pasifik tidak dapat dibenarkan.

Biden dan istri menyerukan warganya, untuk terus menguatkan persatuan bangsa.

Pada Rabu (10/2) menjelang Tahun Baru, Biden juga menyampaikan ucapan selamat Tahun Baru Imlek kepada seluruh masyarakat China dan Presiden China Xi Jinping, dalam pembicaraan telepon dengan Xi.

Analis China menilai, pernyataan Biden soal rasisme dalam ucapan Selamat Tahun Baru Imlek, menunjukkan tekad kuat Presiden AS ke-46 itu untuk mengakhiri warisan destruktif dari pemerintahan sebelumnya, yang dipimpin Donald Trump.

Seperti diketahui, Trump kerap bertindak rasis dan menyalahkan China atas pandemi dengan menyebut virus corona baru sebagai “virus China”. Penyebutan itu tidak hanya merugikan masyarakat China, tetapi juga warga Asia lainnya.

“Ucapan selamat yang disampaikan Biden menunjukkan bahwa, elit AS saat ini menginginkan negaranya kembali ke postur politik yang lebih rasional. Ini juga menjadi sinyal koperatif AS, untuk menjawab tantangan bersama. AS juga tak punya alasan untuk mengembangkan kebencian dan rasisme terhadap negara lain, termasuk China,” kata Li Haidong, Profesor Institut Hubungan Internasional Universitas Urusan Luar Negeri China, kepada Global Times, Sabtu (13/2).

Menurut keterangan yang dirilis Gedung Putih, AS menekankan divergensi lebih dari sekadar kerja sama. Terutama, pada urusan dalam negeri dan isu-isu yang menjadi kepentingan utama China seperti Hong Kong, Xinjiang dan Taiwan.

Dalam hal ini, para ahli China mengatakan, tantangan pemulihan hubungan China-AS masih terbuka. Kuncinya adalah bagaimana mengelola subyek yang penuh beban.

 

Ucapan Selamat Tahun Baru Imlek juga datang dari Presiden Prancis Emmanuel Macron, melalui 4 bahasa: Prancis, China, Korea, dan Vietnam.

“Kepada semua yang merayakan Tahun Baru Imlek, saya mendoakan yang terbaik untuk segenap kesehatan, kesuksesan, dan kebahagiaan!” cuit Macron via akun Twitternya, Jumat (12/2).

Para pemimpin negara-negara Asia seperti Jepang, Korea Selatan, dan Filipina juga menyampaikan selamat. Presiden Filipina Rodrigo Duterte berharap, negaranya bisa menjalin hubungan yang lebih baik dengan China.

“Saya ingin menyambut Presiden Xi Jinping dan seluruh rakyat China pada perayaan Tahun Baru Imlek. Semoga, di Tahun Baru ini, kita dapat bekerja sama untuk lebih memperkuat persahabatan dan kerja sama antara pemerintah dan rakyat kita,” kata Duterte, seperti dikutip Manila Times, Sabtu (13/2).

Meski hubungan beberapa negara Barat dengan China, telah dirusak oleh sentimen anti-China atau Sinophobia karena pandemi dan masalah lainnya, para pemimpin negara tersebut menunjukkan sikap ramah terhadap imigran China dan Asia di negara mereka. Antara lain dengan mengucapkan Selamat Tahun Baru Imlek.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, menyampaikan harapan terbaiknya kepada semua orang yang merayakan Tahun Baru Imlek.

“Dalam Tahun Kerbau, kami memiliki banyak tantangan bersama dengan orang-orang China, mulai dari mengalahkan Covid-19, hingga menangani perubahan iklim dan mendukung pemulihan ekonomi dunia,” papar Johnson via akun Twitternya, Jumat (12/2).

Li menilai, pernyataan para pemimpin ini telah membuktikan bahwa sentimen anti-China yang telah menjadi semakin umum di antara beberapa kekuatan politik konservatif dan ekstrim di masa lalu, kini telah redup.

“Selama ini, pemerintahan Trump telah menciptakan ketidakpastian yang sangat besar bagi dunia. Serta menciptakan gesekan yang tidak membantu kerja sama internasional. Karena itu, sekarang ini, para pemimpin dunia mengirim pesan untuk bersumpah demi persatuan dan kepastian,” terang Li.

Sementara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, sedikit unjuk gigi tentang pengetahuannya terhadap budaya China. 

“Kerbau melambangkan energi, kekuatan dan keberanian. Kualitas-kualitas seperti inilah yang dibutuhkan dunia sekarang,” ujarnya.

 

Masyarakat China di seluruh dunia telah memberikan pengaruh besar bagi budaya China. Tahun Baru Imlek kini menjadi festival global, yang dirayakan di seluruh dunia, ketimbang simbol budaya tertentu di Asia.

Terkait hal ini, Profesor Universitas Peking Zhang Yiwu mengatakan, sekelompok negara yang terus berkembang kini semakin menyadari, China punya peran besar dalam menghadapi tantangan bersama seperti pandemi, perubahan iklim, dan pemulihan ekonomi. Karena itu, tak ada pilihan selain bekerja sama dengan China.  

“Sebaliknya, China juga menunjukkan kesungguhan dan upaya yang besar untuk membuktikan. Itu adalah kekuatan besar yang bertanggung jawab,” kata Zhang.

“Kontribusi China di tengah masa sulit ini, akan semakin banyak dirasakan masyarakat dunia. Peran China sebagai aktor internasional akan semakin penting,” pungkasnya. [HES]

]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Generated by Feedzy