Setuju TWK Tak Jadi Dasar Pemberhentian Pegawai KPK AHY: Integritas Penting Untuk Bentengi Diri Dari Godaan Korupsi –

Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengapresiasi pernyataan Presiden Jokowi, yang menyebut Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) tidak serta-merta bisa dijadikan dasar, untuk memberhentikan 75 pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang tidak lolos tes.

Jokowi menyebut, hasil tes tersebut mestinya jadi masukan untuk memperbaiki mutu KPK.

“Presiden sudah mengatakan, itu tidak boleh menjadi parameter untuk mendiskualifikasi siapa pun. Apalagi, alasannya kemudian dimodifikasi. Seolah-olah karena alasan tersebut, tapi ternyata ada alasan lain. Ini tidak boleh,” kata AHY dalam keterangannya, Minggu (30/5).

“Pada akhirnya, kita akan mengetahui, kebenaran akan terkuak. Saya selalu meyakini, cepat atau lambat, kebenaran akan mencari jalannya sendiri. Begitu pula dengan keadilan,” lanjut putra pertama Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono.

AHY menuturkan, keluarga besar Partai Demokrat ingin meyakinkan agar lembaga-lembaga penegak hukum bisa menjadi role model buat yang lainnya. Agar masyarakat juga bisa menilai, bahwa ada harapan terhadap negaranya. Terhadap institusi-institusi yang memang harus menjalankan tugas-tugas yang tidak mudah tadi. Menegakkan kebenaran dan juga keadilan.

AHY juga memaparkan pandangannya, tentang upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Menurutnya, pemberantasan korupsi adalah pekerjaan kita semua.

“Saya lihat, godaan itu memang selalu ada. Godaan yang manusiawi. Orang hidup bekerja untuk mendapatkan kesejahteraan, dan kehidupan yang lebih layak dan lebih baik. Bisa dikatakan, tidak ada batasnya. Itulah sifat dasar manusia, selalu punya ambisi, selalu bisa tergoda,” paparnya.

“Saya hanya bisa mengingatkan, karena kita sama-sama manusia biasa untuk sama-sama saling mengingatkan. Lebih baik kita mawas diri, daripada kita ikut menggunjingkan siapa pun,” sambungnya.

 

AHY menyadari, masyarakat punya ekspektasi lebih soal pemberantasan korupsi. AHY bilang, demokrasi yang merupakan produk reformasi 1998, bukan hanya sebagai password yang indah untuk diucapkan.

“Demokrasi itu banyak implikasinya. Salah satu untuk tetap sehatnya demokrasi tadi, hukum tegak di negara kita, adalah keadilan untuk semua, justice for all,” tuturnya.

Ia pun menyayangkan keterlibatan sejumlah orang dalam kasus korupsi, yang mestinya menjadi role model tbagi masyarakat.

“Ini tentu kita sayangkan. Tapi kita tidak boleh hanya menunjuk siapa yang salah, atau justru menyalahkan. Mari sama-sama kita hadirkan solusi,” beber AHY.

Solusi yang pertama menurut AHY adalah edukasi. “Character building, berkali-kali kita sering menyampaikan, pendidikan itu bukan hanya intelektual, tetapi juga karakter. Karena membentuk karakter kepribadian, jauh lebih sulit dibanding membentuk kemampuan intelektual seseorang,” jelas AHY.

Karena itu, AHY memandang pentingnya integritas, yang menurutnya termasuk ke dalam aspek kejujuran dan sifat amanah.

Menurutnya, itu bukan perkara mudah. Harus sedini mungkin diterapkan. Bukan hanya pada saat seseorang menapak usia dewasa, tetapi harus sejak kecil. Mulai dari keluarga,  lembaga pendidikan, dan seterusnya.

“Termasuk pada akhirnya, ketika dia berada pada posisi atau profesi tertentu. Itu harus selalu dilakukan pembangunan karakter, karena itu tidak berhenti,” pungkas AHY. [SAR]

]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *