Isu Kudeta Demokrat Belum Reda Yang Tua Mancing, Yang Muda Panasan –

Isu kursi Ketua Umum Partai Demokrat akan dikudeta, belum juga reda. Penyebabnya: yang tua masih rajin mancing-mancing, sedangkan yang muda mudah sekali kepanasan. Jadilah, isu ini terus jadi bola liar.

Yang tua adalah Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Moeldoko. Sedangkan yang muda adalah anak buah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Isu kudeta ini sudah bergulir seminggu, setelah AHY menggelar konferensi pers, Senin pekan lalu. Usai konferensi pers AHY, Moeldoko sudah dua kali memberi keterangan. Isinya, selain membantah tuduhan akan mengambil alih Partai Demokrat, dia juga manas-manasin.

Dia mengaku, memang sempat bertemu dengan beberapa kader Demokrat di sebuah hotel. Tapi, pertemuan itu hanya untuk ngopi-ngopi, bukan menyusun rencana mengkudeta AHY. “Orang ngopi-ngopi kok bisa rame begini. Apalagi ada yang grogi lagi,” ucapnya, dalam konferensi pers di keduannya, Rabu (3/2).

Tak cukup hanya di konferensi pers, Moeldoko juga mancing-mancing lewat media sosial. Lewat akun Instagramnya, @dr_moeldoko, mantan Panglima TNI ini mengunggah foto dirinya sedang memegang cangkir sambil tersenyum, Kamis (4/2). Di atasnya diberi tulisan, “Aku ngopi-ngopi, kenapa ada yang grogi?” 

Sabtu (6/2), Moeldoko kembali mengunggah foto dirinya sedang ngopi, dengan pose berbeda. Seperti sedang menawari orang lain. Dia juga membubuhkan tulisan di atas foto itu. “Aku nambah kopi, ada yang semakin grogi”. 

Dia menyindir kader-kader muda Partai Demokrat yang menganggapnya perlu ke Presiden Jokowi jika melakukan pertemuan di luar tugasnya. “Kalau kamu dengar ada yang melarang, agaknya kamu benar-benar butuh kopi. Konon kata ahli: kopi bisa mencegah gangguan pendengaran,” seloroh Moeldoko.

Unggahan Moeldoko ini membuat Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Partai Demokrat, Rachland Nashidik panas. Dia pun kembali menyerang Moeldoko. “Bukan grogi, tapi geli. Orang lain ngopi pakai susu, Anda pakai bohong,” sergahnya, melalui akun Twitter @RachlandNashidik, Jumat (5/2).

Rachland pun terus meminta Jokowi bersikap tegas atas ulah Moeldoko. Dia berargumen, jika dibiarkan, sikap Moeldoko bisa merusak citra Istana.

Rachland juga menyerang Moeldoko dengan membandingkannya dengan sejumlah jenderal TNI lain. “Ada beda besar antara Moeldoko dengan senior-seniornya di TNI. Jenderal Edi Sudrajat, Jenderal Wiranto, Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono, dan Jenderal Prabowo Subianto. Para seniornya pilih jalan terhormat dalam berpolitik: membuat partai dan berkeringat di dalamnya. Moeldoko kira ambil paksa Demokrat gampang. Dia salah,” tulisnya.

 

Ketua Badan Pemenangan Pemilu Partai Demokrat, Andi Arief lebih panas. Dia membeberkan informasi yang diterimanya bahwa Moeldoko sudah ditegur Presiden Jokowi.

“KSP Moeldoko sudah ditegur Pak Jokowi. Mudah-mudahan tidak mengulangi perbuatan tercela terhadap Partai Demokrat,” tulisnya, di akun Twitter @Andiarief__, Jumat (5/2).

Bagaimana pandangan pakar atas konflik ini? Pendiri Survei KedaiKOPI, Hendri Satrio menerjemahkan unggahan Moeldoko sebagai cara untuk mendapatkan dukungan publik. “Moeldoko ingin membuat kesan bahwa pertemuannya dengan beberapa kader Demokrat biasa-biasa saja,” ucapnya, kemarin.

Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari punya analisis lain. Menurut dia, dalam dunia bulutangkis, ledekan-ledekan yang disampaikan Moeldoko merupakan pengembalian smash yang dilakukan Partai Demokrat. Karena itu, Partai Demokrat harusnya tidak panas. Kalau panas, Moeldoko yang untung.

“Dengan seperti ini, pamor dia (Moeldoko) ikutan naik. Bahkan dalam permainan ini, yang di-smash justru dapat angka,” ulasnya, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Apa yang harus dilakukan Partai Demokrat? Kata Qodari, kuncinya adalah kesolidan internal. Kalau internal Demokrat kuat, seandainya memang Moeldoko melakukan gerakan, tidak akan mempan. [MEN]

]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Generated by Feedzy