Zero Desa Tertinggal Jatim Sukses Ciptakan 697 Desa Mandiri, Tertinggi Se-Indonesia –

Pemerataan pembangunan di Jawa Timur (Jatim) menunjukkan perkembangan positif sampai ke tingkat pedesaan. Hal ini terlihat dari semakin tingginya keberadaan desa dengan status mandiri dan maju serta tidak adanya lagi desa dengan status tertinggal dan sangat tertinggal.

Berdasarkan data Indeks Desa Membangun (IDM) Tahun 2021 Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), jumlah desa mandiri dan maju di Jatim tertinggi di antara provinsi lain se Indonesia. Hal tersebut tertuang dalam SK Dirjen Pembangunan Desa dan Perdesaan Nomor 398.4.1 Tahun 2021 tentang Status Kemajuan dan Kemandirian Desa yang dirilis 19 Agustus 2021.

Data terakhit IDM mencatat, 3.269 desa di Indonesia dinyatakan sebagai desa mandiri. Dari jumlah tersebut, sebanyak 697 desa atau 21,32 persen berada di Jatim. Dengan jumlah ini, Jatim menjadi yang tertinggi. Peringkat kedua ditempati Jawa Barat dengan total 586 desa mandiri. Sedangkan peringkat ketiga diraih Jawa Tengah dengan total 199 desa mandiri. 

Selain itu, desa dengan status maju di Jatim juga tercatat mendominasi secara nasional dengan total 3.283 desa. Angka ini diikuti Jawa Tengah dengan total 2.295 desa maju dan Jawa Barat sebanyak 2.102 desa maju. 

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersyukur karena pembangunan di tingkat pedesaan terus tumbuh baik berdasarkan Indeks Ketahanan Sosial (IKS), Indeks Ketahanan Ekonomi (IKE), dan Indeks Ketahanan Lingkungan (IKL) yang menjadi dasar dalam mengukur IDM. Pembangunan desa tersebut juga mampu berseiring dengan laju penurunan angka kemiskinan di tingkat pedesaan, khususnya pada triwulan II-2021.

“Alhamdulillah, berdasarkan IDM Tahun 2021 yang di rilis Kemendes PDTT, Jawa Timur sudah tidak ada lagi desa tertinggal apalagi desa sangat tertinggal. Yang harus kita syukuri saat ini ada 697 desa mandiri di Jawa Timur, yang merupakan jumlah terbanyak secara nasional,” ujar Khofifah, dalam keterangan yang diterima redaksi, Senin (23/8).

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), per 21 Juli 2021, tingkat keparahan dan kedalaman kemiskinan di Jatim paling tipis jika dibandingkan provinsi lainnya di Jawa. Sementara itu, kontribusi terbesar angka penurunan kemiskinan di Jatim berada di wilayah pedesaan dengan total penurunan sebanyak 33.246 orang.

“Setiap proses pembangunan yang dilakukan terdapat ikhtiar agar terus menekan angka kemiskinan serta mendorong kesejahteraan masyarakat terus meningkat,” tutur Khofifah.

 

Khofifah menjelaskan, terjadi peningkatan jumlah desa mandiri yang sangat signifikan di Jatim pada tahun ini dibandingkan 2020, yaitu sebanyak 332 desa. Begitu pula pada status IDM maju yang meningkat tajam dari 2.621 desa pada 2020 menjadi 3.283 desa. 

“Tahun lalu masih terdapat tiga desa tertinggal dan satu desa sangat tertinggal. Tahun ini sudah tidak ada lagi. Hal ini setelah ditetapkannya dua desa di Jatim, yakni Renokenongo dan Kedungbendo di Kabupaten Sidoarjo sebagai desa yang tidak memenuhi kriteria pembentukan desa sesuai Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa,” jelas gubernur perempuan pertama di Jatim tersebut. 

Khofifah menegaskan, keberhasilan yang diraih ini menjadi bukti komitmen Pemprov Jatim dalam mengentaskan desa tertinggal dan mendorong kemandirian desa melalui berbagai program. Di antaranya ialah program Desa Berdaya dan Paman Desa yang memberikan stimulus berupa permodalan di tingkat desa.

Program Desa Berdaya fokus pada empat aspek utama. Pertama, menumbuhkan inovasi untuk menggerakkan perekonomian desa berbasis potensi dan sumberdaya secara kreatif dan berkelanjutan. Kedua, mendorong hadirnya ikon desa yang khas melalui economic branding berbasis inovasi. Ketiga, optimalisasi penggunaan dana desa untuk mendorong pertumbuhan ikon desa yang berdampak pada peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat desa. Keempat, menciptakan praktik keteladanan (good practices) sehingga menjadi sumber inspirasi.

Untuk itu, Pemprov Jatim telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 20,1 miliar untuk Paman Desa dengan sasaran 301 BUMDesa. Kemudian, anggaran untuk Desa Berdaya senilai Rp 15,1 miliar untuk 151 Desa Mandiri.

“Keberhasilan ini juga tidak lepas dari kerja keras semua pihak. Maka saya menyampaikan terima kasih kepada para kepala daerah, camat, kepala desa dan seluruh pendamping desa, serta perguruan tinggi yang telah melakukan pendampingan sehingga tercapainya peningkatan terhadap status IDM di Jatim,” tutur Ketua PP Muslimat NU tersebut.

Khofifah juga memberikan apresiasi terhadap lima desa yang masuk dalam 10 ranking tertinggi nasional. Lima desa asal Jatim tersebut antara lain Desa Oro-oro Ombo, Kecamatan Batu, Kota Batu dengan skor 0,9981; Desa Gentengkulon, Kecamatan Genteng, Banyuwangi dengan skor 0,9924; Desa Sidomulyo, Kecamatan Batu, Kota Batu dengan skor 0,9886; Desa Gentengwetan, Kecamatn Genteng, Banyuwangi 0,9867; dan Desa Punten, Kecamatan Bumiaju, Kota Batu dengan skor 0,9775.

“Selamat atas pencapaian yang telah diraih. Menjadi desa mandiri dan masuk sebagai ranking tertinggi secara nasional adalah bukti keseriusan seluruh komponen desa dalam,” katanya. [NNM]

]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *