Tangkap Bupati Bogor Firli Hidup Lagi –

Di tengah sorotan akibat kalah gesit dari Kejaksaan Agung dalam menangani mafia minyak goreng, KPK sukses menangkap Bupati Bogor, Ade Yasin. Ketua KPK Firli Bahuri, yang kemarin-kemarin redup, kini “hidup” lagi.

Operasi Tangkap Tangan alias OTT terhadap Ade Yasin dilakukan Selasa (26/4) malam. Dalam operasi itu, Satgas KPK menangkap 12 orang di tempat yang berbeda. Mereka antara lain Ade Yasin dan pejabat BPK Perwakilan Jawa Barat. Malam itu juga, para pihak yang ditangkap itu, digiring ke Gedung KPK, dan langsung diperiksa secara maraton.

Plt Jubir KPK, Ali Fikri mengatakan, operasi ini dilakukan karena ada dugaan pidana korupsi pemberian dan penerimaan suap dalam pengurusan laporan keuangan Pemkab Bogor. Tersiar kabar bahwa Ade menerima suap dari rekanan yang mengerjakan proyek di Kabupaten Bogor. Uang suap tersebut kemudian akan digunakan Ade untuk menyuap pejabat BPK Perwakilan Jawa Barat.

Meski begitu, Ali belum merinci kasus ini. Kata dia, penyidik masih melakukan pemeriksaan selama 1×24 jam. “Perkembangannya nanti akan disampaikan lebih lanjut,” kata Ali, melalui pesan singkat, kemarin.

Jubir berlatar belakang jaksa itu mengungkapkan, Satgas menyita sejumlah uang dalam pecahan rupiah saat melakukan OTT. “Jumlahnya hingga kini masih dihitung dan dikonfirmasi kembali kepada pihak-pihak yang ditangkap,” ungkapnya.

Penangkapan Ade jadi prestasi tersendiri bagi Firli Cs. Dengan keberhasilan ini, berarti Firli Cs sudah 19 kali melakukan OTT.

Dengan bangga Firli pun tampil memberikan penjelasan. Mantan Kapolda Sumatera Selatan ini menyatakan, akan memberi penjelasan secara rinci setelah penyidik selesai menerima Ade.

“Kami sedang dan masih terus bekerja. Kami menyampaikan terima kasih atas dukungan masyarakat dan seluruh pihak sehingga KPK bisa melaksanakan tugas-tugas pemberantasan korupsi,” kata Firli, di akun Twitter @firlibahuri, kemarin.

Kata dia, dalam menangani kasus ini, KPK juga berkoordinasi dengan BPK Jawa Barat. Sebab, ada salah satu pejabat mereka yang ikut ditangkap. “Kami sedang berkoordinasi untuk penjelasan bersama dengan lembaga tempat oknum tersebut bekerja,” ujarnya.

 

Penangkapan terhadap Ade Yasin mengejutkan, terutama bagi warga Kabupaten Bogor. Apalagi, sehari sebelum ditangkap, Ade Yasin menerbitkan Surat Edaran (SE) terkait larangan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) menerima gratifikasi THR. Ia mewanti-wanti kepada para pejabat di lingkungan Pemkab agar tidak meminta atau menerima gratifikasi terkait Lebaran Idul Fitri. Ketua DPW PPP Jawa Barat ini mengatakan, menerima gratifikasi bisa menimbulkan konflik kepentingan, dan memiliki risiko sanksi pidana.

Ade Yasin menjabat Bupati Bogor sejak 2018. Dia memenangkan Pilkada Kabupaten Bogor bersama Iwan Setiawan. Masa jabatannya akan habis tahun depan dan masih berpeluang kembali maju pada Pilkada Serentak 2024.

Ade adalah adik kandung mantan Bupati Bogor, Rahmat Yasin, yang menjabat dari 2008 hingga 2014. Pada 2014, Rahmat Yasin juga ditangkap KPK dalam kasus korupsi pengadaan lahan, dan menjalani hukuman lima tahun penjara.

Sepekan setelah keluar, pada 2019, Rachmat kembali diciduk KPK. Dia disebut terlibat kasus gratifikasi sejumlah pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bogor. Di kasus kedua, Rachmat divonis 2 tahun 8 bulan penjara atas kasus tersebut.

Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengaku kaget dan prihatin dengan penangkapan terhadap Ade Yasin. Dia bilang, selalu mengingatkan agar kepala daerah di Jabar untuk menjaga integritas, profesional dan melayani dengan sepenuh hati.

“Kalau misalnya benteng integritasnya runtuh seperti ini, tentu sangat memprihatinkan,” kata Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, saat melakukan kunjungan kerja ke Cianjur, kemarin.

Emil mengaku sudah menghubungi Wakil Bupat Bogor Iwan Setiawanu dan meminta mengambil alih koordinasi dan kepemimpinan teknis. Jangan sampai, gara-gara kasus ini, roda pemerintahan di Pemkab Bogor terhenti. Selain itu, jangan sampai pelaksanaan manajemen mudik hingga arus mudik ikut terganggu.

Bagaimana tanggapan PPP? Wakil Ketua PPP Arsil Sani menghormati proses hukum yang dilakukan KPK. Kata dia, sampai saat ini pihaknya belum bisa memberikan komentar banyak. “Kami menunggu dulu penjelasan KPK setelah 1X24 jam,” kata Arsul, kemarin.

Senada disampaikan Ketua DPP PPP Syaifullah Tamliha. Apalagi dia belum tahu duduk persoalan kasus tersebut. “Kami masih ber-husnuzan (berbaik sangka) dengan meminta semua pihak untuk menggunakan asas praduga tak bersalah,” tuturnya.

Pengamat kebijakan publik dari Visi Nusantara Maju, Yus Fitriadi geleng-geleng kepala dengan ulah Ade Yasin sehingga ditangkap KPK. Dengan kasus ini, kata dia, sudah tiga kali KPK melakukan penangkapan terhadap keluarga Yasin. “Bogor memang sedang mengalami krisis kepemimpinan,” kata Yus, di Bogor, kemarin.

Ia meminta KPK menggali lebih dalam keterlibatan pihak lain yang kemungkinan adalah kroni rezim Yasin. Ia menduga ada banyak pihak terkait dalam kasus ini. Karena kasus korupsi terus berulang. “Pelaku koruptif itu harus diberangus tidak hanya pada individunya saja, tapi juga rezimnya harus dihilangkan demi Kabupaten Bogor yang bersih dan melayani,” pungkasnya. [BCG]

]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *