Puasa Bermanfaat Banyak Bagi Penderita Autoimun –

Puasa di bulan Ramadan selain kewajiban bagi umat Islam, dari sisi medis terbukti banyak manfaatnya. Bahkan bagi penderita autoimun, puasa sangat diperlukan.

Hal itu disampaikan penyintas autoimun Niken Tantyo Sudharmono melalui akun Youtube-nya.

Dijelaskan Niken, salah satu dampak puasa bagi kesehatan adalah memberikan efek pada regenerasi sel. “Efek ini akan terjadi secara alami, dan dikenal dengan sebutan autophagy. Autophagy adalah proses alami di dalam tubuh, ketika sel membersihkan jaringan yang rusak di dalam tubuh,” kata Niken, Sabtu (17/4).

Niken yakin, khasiat autophagy sangat baik bagi kesehatan. Sebagai orang yang memiliki spektrum autoimun, Niken tidak hanya menjalankan ibadah puasa selama bulan Ramadan. Ia menjadikan puasa sebagai rutinitasnya. Kata dia, manusia memiliki sistem kekebalan dalam tubuhnya, yang biasa dikenal dengan istilah sistem imun.

Sistem imun adalah sebuah sistem pertahanan tubuh pada jaringan, organ, dan sel. Sistem imun ini berfungsi melindungi tubuh dari benda asing, infeksi, dan penyakit. Namun, ada kalanya sistem imun malah menyerang sel sehat di dalam tubuh manusia.

Inilah yang menyebabkan seseorang menderita penyakit autoimun. Panyakit ini tergolong kompleks dan sulit disembuhkan.

“Kalau tidak sedang menjalankan ibadah puasa Ramadan, saya rutin berpuasa minimal 17 jam. Bahkan, bisa lebih. Tapi, puasa yang saya lakukan tidak sama dengan Puasa Ramadan. Saya masih tetap minum air mineral, air lemon, air rebusan jahe, teh hijau, dan supplement,” kata Niken yang telah lama memiliki spektrum autoimun.

Tak mudah baginya bisa sembuh dari autoimun. Ia sudah mencoba berobat ke dokter spesialis autoimun, baik di dalam maupun luar negeri.

Beruntung, Niken sedari kecil sudah gemar membaca. Ia pun lalu mencari jurnal kedokteran yang membahas soal autoimun. Niken pun menjalankan autophagy, yang pertama kali diperkenalkan oleh ilmuwan Jepang, Yoshinori Ohsumi.

Pada dasarnya, paparnya, autophagy merupakan reaksi normal sel imunitas tubuh, untuk memakan sel-sel yang berpotensi menjadi sel-sel penyakit.

Berkat penemuannya ini, Yoshinori meraih Nobel Kesehatan dan Kedokteran tahun 2016.

Autophagy, kata Niken, dipercaya memainkan peran petning dalam sistem kekebalan tubuh, dengan cara membersihkan racun dan agen infeksi di dalam tubuh.

Penelitian membuktikan, autophagy dapat meningkatkan prospek sel dalam menghadapi infeksi penyakit menular dan neuro degeneratif dengan cara mengendalikan peradangan. Selain itu, juga diyakini dapat membantu melindungi sel dari masuknya mikroba ke dalam tubuh.

Bagi Niken, autophagy adalah salah satu rangkaian dari formula yang bisa diterapkan orang yang memiliki spektrum autoimun agar tetap bisa sehat dan bugar. Niken menamakan formula ciptaannya itu sebagai Lifestyle of Health (LOH).

Ada tiga tahap dalam formula LOH ini. Karenanya, ia menamakanya dengan LOH123. Tahap pertama menerapkan pola makan free dairy product, semisal susu, keju, atau yoghurt. “Saya juga tidak mengonsumsi gluten, sugar free, dan telur. Begitu pun tanaman jenis nightshade seperti tomat, terong, dan cabai,” tutur Niken.

Untuk tahap kedua dari LOH123, Niken amat memperhatikan asupan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh seperti vitamin D3, glutathione, dan probiotik. Untuk membersihkan racun dalam tubuh, dia mengonsumsi kyolic dan candida support.

Pada tahap ketiga, Niken melakukan LOH untuk mencapai autophagy. Tahap ketiga ini dilakukan melalui beberapa tahapan, bisa dimulai dari water fasting 16 jam, hingga lebih lama lagi.

“Jadi, jelas sudah puasa memiliki khasiat yang berguna bagi kesehatan. Salah satunya adalah proses autophagy yang terjadi pada tubuh selama menjalankan puasa. Dengan menerapkan LOH123, saya merasakan tubuh¬†tetap sehat dan bugar. Penyakit autoimun yang sudah bertahun-tahun, kini berhasil diredam dengan menerapkan LOH123,” pungkasnya. [JAR]

]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Generated by Feedzy