Psikolog UGM Flexing Di Medsos Cerminan Rendahnya Self Esteem –

<p>Hari-hari ini, media sosial (medsos) kita diramaikan oleh perilaku <em>flexing</em> alias pamer barang mewah.</p>

<p>Setelah putra&nbsp;mantan pejabat Eselon III&nbsp;Pajak yang terlibat kasus penganiayaan,&nbsp;putri Kepala Bea Cukai Makassar, istri Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Jakarta Timur, kini giliran istri Kepala Sub Bagian Administrasi Kendaraan, Biro Umum Kementerian Sekretariat Negara berulah serupa.</p>

<p>Terkait hal ini, Pengamat Psikologi Sosial UGM, Lu&rsquo;luatul Chizanah mengatakan, <em>flexing</em> menjadi fenomena yang mencuat, seiring&nbsp;masifnya perkembangan medsos.</p>

<p>&quot;Kehadiran medsos, memberi kesempatan bagi orang-orang untuk lebih menunjukkan diri atas kepemilikan material atau properti, yang dianggap memiliki nilai bagi kebanyakan orang,&rdquo; jelas Lu'luatul melalui laman resmi UGM.</p>

<p>Dia bilang, orang yang melakukan <em>flexing</em> di medsos,&nbsp;antara lain bertujuan untuk mendapatkan pengakuan dalam kelompok.</p>

<p>Dalam konteks pembentukan relasi atau pertemanan, orang tersebut butuh pengakuan. Supaya&nbsp;bisa diterima di lingkungan tertentu.</p>

<p>&ldquo;Teknik manajemen impresi dengan memamerkan barang-barang mewah dilakukan untuk membuktikan, bahwa dia layak masuk dalam komunitas tertentu. Harapannya, dengan memamerkan barang&nbsp;<em>branded,&nbsp;</em>orang lain akan menilai dia&nbsp;layak masuk kalangan elite,&rdquo; jelas Lu'luatul.</p>

<p>Menurutnya,&nbsp;perilaku <em>flexing</em> di media sosial mengindikasikan rendahnya <em>self</em> <em>esteem</em> atau cara seseorang menilai dirinya sendiri.</p>

<p>Orang yang kerap melakukan <em>flexing,&nbsp;</em>sebenarnya tidak mempunyai kepercayaan terhadap nilai diri.</p>

<p><em>Flexing</em> dilakukan sebagai upaya, untuk menutupi kekurangan harga diri. Mengupayakan orang lain terkesan.</p>

<p>&ldquo;Dengan memposting sesuatu yang dinilai berharga bagi kebanyakan orang dan mendapat <em>like,&nbsp;</em>mereka merasa divalidasi. Merasa hebat dan berharga, karena orang-orang menjadi kagum pada dirinya,&rdquo; jelas&nbsp;Lu&rsquo;luatul.</p>

<p>Perilaku <em>flexing</em> bisa menimbulkan pandangan yang tidak tepat di masyarakat, terkait kepemilikan material. Sebab apa yang diunggah pelaku <em>flexing,</em> bisa membuat&nbsp;pengguna media sosial percaya akan pentingnya kepemilikan material.</p>

<p>&ldquo;Bisa terbentuk pandangan, seseorang akan dihargai kalau punya sesuatu. Ini jadi pemahaman yang berbahaya, sementara aspek lainnya diabaikan,&rdquo;ucapnya.</p>

<p>Lu'luatul bilang, perilaku <em>flexing</em>&nbsp;berdampak buruk ke arah <em>impulsive</em>&nbsp;<em>buying</em>.</p>

<p>Seseorang akan menjadi sangat impulsif untuk membeli barang-barang <em>branded,</em> hanya untuk <em>flexing</em>.</p>

<p>Apabila <em>flexing</em> ditujukan untuk mengatasi rendahnya <em>self</em> <em>esteem</em>, maka hal tersebut hanya bersifat semu. Tidak berujung, serta bersifat adiktif.</p>

<p><em>Flexing</em> justru menghalangi seseorang untuk mengatasi persoalan&nbsp;<em>self</em> <em>esteem</em> secara efektif.</p>

<p>&ldquo;Kalau <em>flexing</em> dilakukan sebagai awal pemantik perhatian, dan selanjutnya menunjukkan sesuatu yang lebih esensial&nbsp;seperti kompetensi dan personaliti yang baik, itu tidak masalah. Akan jada masalah, jika <em>flexing</em>&nbsp;jadi satu-satunya cara untuk manajemen impresi. Ini akan jadi&nbsp;toksik bagi diri pelaku,&quot; terang&nbsp;Lu&rsquo;luatul.</p>

<p>Agar tidak terjebak perilaku flexing, Lu'luatul&nbsp;menganjurkan kita, agar&nbsp;tidak selalu membandingkan&nbsp;diri dengan orang level atas.</p>

<p>&quot;Cobalah untuk melihat ke bawah, jangan ke atas terus. Dorongan untuk <em>flexing</em>&nbsp;akan muncul, jika kita selalu melihat ke atas. Kalau kita melihat ke bawah, justru akan muncul rasa syukur,&rdquo; ujarnya mewanti-wanti.</p>

<p>Lu'luatul menuturkan, setiap orang memiliki potensi berperilaku <em>flexing</em>. Karena itu, kemampuan mengelola diri terkait hal tersebut,&nbsp;sangat penting.</p>

<p>&ldquo;<em>Flexing</em> untuk menunjukkan pencapaian, sesekali tidak apa. Tapi, harus jadi alarm diri, kalau kita menjadi cemas saat tidak posting,&quot; ucapnya. ■</p> . Sumber : Berita Lifestyle, Kuliner, Travel, Kesehatan, Tips

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *