Petani Rasakan Manfaat Besar Program JEJAK SETAPAK dan PESONA SUBANG Pertamina EP –

PT Pertamina EP Zona 7 Subang Field, bagian dari Subholding Upstream Pertamina Regional Jawa, selain melaksanakan tugas utama memproduksi minyak dan gas bumi juga memiliki komitmen tinggi dalam melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan.

Hal itu dibuktikan lewat upaya perusahaan memberdayakan para petani dan usaha kecil melalui dua program unggulan, yaitu Pemanfaatan Serat Daun Nanas (PESONA) di Kabupaten Subang.

Dan, program Jerih Kerja Karawang Semangat Petani Sehat Ketahanan Pangan Meningkat (JEJAK SETAPAK) di Kabupaten Karawang.

Ndirga Andri Sisworo, Senior Manager PEP Subang Field, mengatakan program PESONA SUBANG dan JEJAK SETAPAK adalah salah satu kontribusi perusahaan dalam menjaga kondisi pertanian masyarakat agar tetap lestari.

Hal ini sejalan dengan komitmen perusahaan untuk menjalankan bisnis migas berkelanjutan yang berlandaskan prinsip Environmental, Social and Governance (ESG), dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan di sekitar wilayah daerah operasi perusahaan.

Ndirga menjelaskan, program PESONA SUBANG dan JEJAK SETAPAK adalah selaras dengan alam. Dengan JEJAK SETAPAK pihaknya berupaya memperbaiki struktur kesehatan tanah sawah melalui pertanian organik.

Pihaknya juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) 15 terkait ekosistem darat dan SDGs 2 dalam mewujudkan kondisi tanpa kelaparan, dalam penetapan kawasan pertanian berkelanjutan di tengah berkurangnya lahan sawah setiap tahun.

“Adapun melalui PESONA SUBANG, kami berharap ada perubahan dan peningkatan dari pemahaman, kesadaran akan pemanfaatan limbah daun nanas, keterampilan mengolah dan pemanfaatannya,” ujarnya di Karawang, Jumat (7/10/2022).

Ndirga mengatakan, program PESONA Subang dirilis pada Oktober 2021. Dalam program ini perusahaan menggandeng mitra binaan di Desa Cikadu, Kecamatan Cijambe, Kabupaten Subang.

Pengembangan program PESONA dilatar belakangi oleh Subang sebagai daerah penghasil nanas terbesar di Jawa Barat.

Ternyata kata dia, dibalik keuntungan besar dari penjualan buah nanas, terdapat masalah limbah yang masif dalam pertanian nanas. Limbah daun nanas menjadi masalah lingkungan yang belum mendapatkan solusi yang efektif hingga saat ini.

“Kami bersama mitra binaan di sana memanfaatkan limbah daun nanas sebagai bahan serat alam berkualitas. Serat daun nanas sangat baik sebagai bahan tekstil ramah lingkungan (green textilles), bisa jadi komposit pengganti fiberglas, serta sebagai bahan baku kertas,” ujarnya.

Pada tahun pertama, lanjut Ndirga, PEP Subang Field bersama mitra binaan melakukan optimalisasi produksi. PEP Subang Field pun memberikan bantuan mesin dekortikator untuk produksi pengolahan daun nanas menjadi serat dan beberapa alat tenun.

“Kami pun memberikan pelatihan pengolahan dan pembentukan kelompok selain pembentukan koperasi bank daun nanas,” ujarnya.

Tahun ini, sesuai dengan peta jalan program PESONA Subang, memasuki fase peningkatan kapasitas masyarakat. PEP Subang Field membuat program pelatihan kerajinan serat daun nanas dan pelatihan pewarna alami.

Selain itu, ada juga pelatihan kreasi lukis dan pelatihan pengolahan kompos rendeman daun nanas.

Sementara pada 2023, PEP Subang Field memproyeksikan program peningkatan pemasaran hasil diversifikasi produk PESONA Subang. Antara lain, lewat pembentukan pusat pemasaran produk, pameran produk dan perluasan kerja sama.

“Kami juga akan menyusun buku modul dan training for trainer,” jelas Ndirga.

 

Alan Sahroni, mitra binaan program PESONA Subang, mengucapkan terima kasih atas dukungan PEP Subang Field dalam pemberdayaan masyarakat di daerahnya.

Apalagi, program ini memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat dan juga tambahan peningkatan pengolah serat.

“Para pemuda dan ibu-ibu terlibat dalam kegiatan PESONA Subang. Di sini ada pemuda yang mengolah daun nanas menjadi serat dan ibu-ibu yang terlibat dalam penyisiran serat nanas serta melakukan pemintalan dan penenunan serat,” ujarnya.

JEJAK SETAPAK

Sementara itu, program JEJAK SETAPAK PEP Subang Field dikembangkan di Kelurahan Plawad, Kecamatan Karawang Timur, Kabupaten Karawang.

PEP Subang Field telah mengembangkan program ini sejak 2019 lewat pembentukan kelompok. Pengelolaan program JEJAK SETAPAK yang sebelumnya dilakukan secara terpisah oleh mitra binaan di sektor pertanian dan akuaponik, kini sudah terintegrasi melalui Koperasi Paguyuban Saripati Tani.

Ndirga menyebutkan latar belakang program JEJAK SETAPAK adalah realita Karawang sebagai lumbung padi nasional terancam akibat luas lahan yang menurun setiap tahun.

Selain itu ada ancaman kerusakan lahan akibat penggunaan pupuk kimia dan pestisida. Mengutip data Food and Agricultural Organization (FAO), 69 persen tanah pertanian di Indonesia dikategorikan sudah rusak parah.

“Kami juga melihat urgensi regenerasi petani, apalagi menurut data Kementerian Pertanian, petani muda Indonesia hanya 8 persen dari total petani yang mencapai 33,4 juta orang,” katanya.

Saat ini, Jejak Setapak memasuki fase pemantapan program, yaitu wirausaha sebelum PEP Subang Field menerapkan exit program pada 2023 dengan harapan mitra binaan jadi mandiri dan menempatkan program JEJAK SETAPAK sebagai sentra studi di Karawang.

“Berbagai inovasi dan kontribusi telah dilakukan untuk program JEJAK SETAPAK, di antaranya integrasi budidaya perikanan dan padi, sertifikasi organik oleh INOFICE, akuaponik, biofilter, dan penyediaan Solar System Water Circulation (SOSYS TERI)”, ujar Ndriga.

Hendra Wijaya, Sekretaris Koperasi Sari Pati Tani, mengatakan JEJAK SETAPAK saat ini fokus pada pemberdayaan pada tiga sektor, yaitu pertanian organik, akuaponik, dan UKM yang melibatkan ibu-ibu.

Total ada 56 orang yang tergabung dalam program ini. “Ada 37 orang yang tergabung dalam Paguyuban Saripati Tani, 9 pemuda di akuaponik, dan 10 ibu-ibu yang mengelola usaha kuliner memanfaatkan produk beras dari pertanian organik yang dikembangkan JEJAK SETAPAK,” katanya.

 

H. Sartim, Ketua Koperasi dan Paguyuban (Kelompok Tani) Saripati Tani, menambahkan jika inovasi pertanian organik menjadi andalan pada program ‘JEJAK SETAPAK’.

Saat ini Saripati Tani mengelola 6,7 hektare lahan pertanian organik dengan mengaplikasikan sistem organik pemanfaatan botol plastik 10 kg.

Sartim menyebutkan, produk pertanian organik Sari Pati Tani memiliki keunggulan, baik secara ekonomi maupun lingkungan.

Pasalnya, pertanian organik dapat meregenerasi kesuburan tanah secara alami dan dapat menopang kegiatan pertanian dalam jangka panjang. Hal ini berbeda dengan pertanian nonorganik yang mengandalkan pupuk kimia.

“Semakin lama penggunaan pupuk jenis ini justru berpengaruh pada berkurangnya kemampuan tanah untuk meregenerasi dirinya sendiri,” katanya.

Secara ekonomi, keunggulan pertanian organik juga memiliki nilai harga yang lebih tinggi dari beras non-organik. Hal ini karena kandungan gizi dan mineral yang terkandung dalam produk beras organik dinilai lebih baik daripada beras non organik.

“Peningkatan gaya hidup sehat yang marak diterapkan turut meningkatkan nilai tawar beras organik sebagai pilihan produk yang lebih sehat,” katanya.

Hendra menambahkan, omzet petani dalam program JEJAK SETAPAK mencapai Rp 240 juta per panen. Sedangkan omzet pemuda yang mengelola akuaponik sebesar Rp 5,9 juta per bulan.

“Alhamdulillah, program JEJAK SETAPAK PEP Subang Field ini telah membantu ekonomi masyarakat Kelurahan Plawad,” ujarnya.

]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *