Pake Buzzer, Bukti Parpol Gagal Tuh… –

Penggunaan buzzer politik untuk menggiring opini publik di media sosial dinilai merusak demokrasi. Penggunanya dianggap tidak mampu melakukan komunikasi politik dengan baik.

“Buzzer ini ada sebagai pen­anda komunikasi yang lemah. Sehingga banyak manipulasi di media sosial,” ujar Guru Besar Universitas Parahyangan (Unpar) Bandung, Prof Asep Warlan Yusuf kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Menurutnya, jika parpol mampu hadir sebagai penyambung rakyat dan bisa membuktikan kinerja yang baik, akan membuat buzzer akan kehilangan perhatian dari masyarakat.

Asep juga merasa miris dengan sejumlah politisi parpol yang seolah menikmati adanya buzzer di media sosial. Menurutnya, buzzer itu menjadi preseden buruk ketika opini yang dibangun dan dibenarkan menjadi salah. “Apalagi, kabar yang dibangun buzzer itu hoaks, namun dibenarkan masyarakat,” ucapnya.

Dikatakan, buzzer hadir ketika pemerintah memutuskan sebuah kebijakan publik. Manakala, kecerdasan rakyat minim, ditambah komunikasinya dengan pemerintah macet, dipastikan buzzer akan tumbuh subur. “Memang, komunikasi publik kita jelek sekali. Literasi ini harus dibantu parpol atau ormas, sebagai penyambung agar tidak menelan begitu saja apa kata buzzer,” cetusnya.

Asep juga menyarankan, sebaiknya pemerintah memberikan keleluasaan kepada media untuk melakukan saran dan kritik. Ketika media menjadi sumber utama masyarakat, maka buzzer ditinggalkan.

Belakangan ini, kata dia, keberadaan buzzer membuat resah publik. Terakhir, yang dikeluhkan ekonom senior yang juga kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kwik Kian Gie. Menteri Koordinator Ekonomi di era Presiden Abdurahman Wahid itu mengaku buzzer membuatnya takut berpendapat.

“Saya belum pernah setakut saat ini mengemukakan pendapat yang berbeda dengan maksud baik memberikan alternatif. Langsung saja di-buzzer habis-habisan, masalah pribadi diodal-adil. Zaman Pak Harto saya diberi kolom sangat longgar oleh Kompas. Kritik-kritik tajam, tidak sekalipun ada masalah,” tulis Kwik melalui akun Twitter-nya.

Berbeda dengan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Habiburokhman. Dia justru berterimakasih kepada buzzer yang menyerang pendapatnya di media sosial. Dengan demikian, ide yang disampaikannya mengalir hingga jauh.

“Berkat mereka pendapat-pendapat gua jadi lebih terdengar dan gua pun makin terkenal. I Love buzzer!!!” kata Habiburokhman di akun Twitter-nya, @habiburokhman.

Menurut anggota Komisi III DPR ini, berbeda pendapat merupakan hal yang biasa. Dia pun mempersilakan para buzzer terus memperbicangkan dirinya. Habiburokhman juga mengungkapkan kerinduannya masa jaya media cetak sebelum adanya buzzer. “Kangen baca koran cetak, ingat era di mana nggak ada buzzer, baik buzzer penguasa maupun oposisi kardus….!!!” pungkasnya.

Menurut Centre for Innovation Policy and Governace (CIPG), buzzer adalah individu atau akun yang memiliki kemampuan amplifikasi pesan dengan cara menarik perhatian dengan motif tertentu. Buzzer saat ini dicitrakan negatif, karena terlibat dalam peristiwa politik. [BSH]

]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Generated by Feedzy