Nggak Perlu Vaksin Covid Karena Sudah Hidup Sehat, Situ Yakin? –

Vaksinasi merupakan salah satu upaya yang dinilai paling efektif untuk mengatasi pandemi Covid-19 yang masih terus berlangsung, di samping menegakkan protokol kesehatan 5M (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan air mengalir atau hand sanitizer, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas yang tak perlu).

Tapi faktanya, sebagian dari kita masih emoh divaksin dengan alasan beragam. Salah satunya, meyakini bahwa tubuh memiliki mekanisme pertahanan yang baik dalam melawan penyakit. Mereka merasa bisa terhindar dari Covid, hanya dengan mengandalkan hidup sehat yang standarnya masih sangat subyektif.

Terkait hal ini, Dokter Spesialis Penyakit Dalam yang juga edukator kesehatan, dr. RA Adaninggar Primadia SpPD menjelaskan, sistem imun manusia terhadap infeksi pada dasarnya digolongkan menjadi 2 jenis.

Pertama, sistem imun alami (innate) yang antara lain terdiri dari sel epitel, mukosa, interferon, dan fagosit. Sistem imun yang bersifat non spesifik ini memiliki respon cepat dan tersedia secara alami.

Kedua, sistem imun adaptif yang terdiri dari sel limfosit B dan T, antibodi, serta sel memori. Sistem imun spesifik ini mempunyai respon lambat. Butuh pengenalan terhadap sosok kuman/virus.

“Kedua sistem imun ini sama-sama dibutuhkan untuk melawan infeksi secara optimal,” kata dr. Adaninggar yang akrab disapa dr.Ning via akun Instagram-nya.

Dr. Ning menerangkan, sistem imun alami bergerak cepat melawan infeksi. Namun, ketika terjadi perlawanan terhadap virus dan menimbulkan radang, virus masih bisa bereplikasi alias berkembang biak.

Sementara sistem imun adaptif, muncul lebih lambat. Salah satunya, berupa antibodi yang bisa menetralisir virus secara langsung (spesifik). Sel imun ini memangsa virus, sehingga jumlahnya berkurang.

Jadi, bila ada virus SARS Cov2 yang masuk ke dalam tubuh kita, sistem imun alami dan adaptif akan berusaha membunuh virus tersebut.

“Jika pemusnahan virusnya berhasil, gejala yang ditimbulkan tergolong ringan-sedang dan dapat disembuhkan. Sebaliknya, jika gagal, gejala bisa berat. Bisa sembuh, bisa juga meninggal dunia,” papar dr.Ning.

Menurutnya, gejala yang muncul pada setiap orang bisa berbeda-beda. Tergantung interaksi antara virus dan sistem imun. Tidak efektifnya sistem imun alami dan sistem imun adaptif, dapat mengakibatkan badai sitokin. Virus yang tidak berhasil dimusnahkan, dapat memicu reaksi imun yang hebat sebagai usaha lebih untuk memusnahkan virus.

 

“Protokol kesehatan bisa meminimalkan pertarungan antara kualitas sistem imun dan virus,” kata dokter yang berpraktek di RS Husada Utama dan RS Adi Husada Surabaya ini.

Dr. Ning menjelaskan, kualitas sistem imun setiap orang tidak sama. Ada faktor genetik yang mempengaruhi. Yang tidak bisa diketahui pasti, diprediksi, atau dimodifikasi.

Karena itu, kita harus menjaga kualitas sistem imun alami dan adaptif. Kita harus menjalankan pola hidup sehat dengan memastikan asupan nutrisi yang baik, berolahraga secara teratur, berjemur, cukup tidur, melakukan manajemen stres, menghindari rokok dan alkohol, serta mengontrol kondisi penyakit komorbd yang diderita.

“Tapi ingat, bila berinfeksi Covid, Sekalipun sudah menjaga kesehatan sistem imun,” terangnya.

Sampai di sini, vaksinasi menunjukkan peranan penting. Karena vaksinasi ditujukan untuk membentuk sistem imun adaptif berupa antibodi dan sel memori, sebelum terinfeksi virus yang sebenarnya.

Pada orang yang sudah divaksin, bila terjadi serangan virus, sistem imun alami langsung bekerja dan sistem imun adaptif pun sudah siap sedia.

Tak butuh waktu lama untuk pengenalan. Sehingga, virus bisa cepat dimusnahkan atau berkurang, gejala menjadi sangat ringan/ringan, mengurangi risiko penularan, perjalanan penyakit dapat diprediksi, serta mampu menekan kasus penularan dan kasus kematian.

“Sebaliknya, pada orang yang tidak divaksin, perjalanan penyakit sulit terprediksi. Ada kemungkinan 80 persen sembuh, dan 20 persen bergejala hingga meninggal. Masalahnya sekali lagi, kita tidak bisa memprediksi, apakah kita akan jatuh ke kondisi ringan sedang, atau berat bila terinfeksi Covid,” tandas dr. Ning.

Dapat disimpulkan, vaksin memberikan kekebalan tanpa harus menjadi sakit dulu. Pola hidup sehat tidak bisa memproduksi antibodi secara otomatis. Tapi bila terinfeksi atau divaksin, pola hidup sehat dapat membantu pembentukan antibodi yang optimal.

“Pola hidup sehat dan vaksin adalah usaha pencegahan yang optimal terhadap ancaman Covid, bila dilakukan bersama dengan protokol kesehatan,” tandas dr. Ning. [HES]

]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *