Maunya Cuma 2 Capres Mimpi Banteng Semoga Meleset –

PDIP menyatakan siap menghadapi Pilpres 2024 dengan dua atau tiga pasangan capres-cawapres. Kendati demikian, maunya banteng, pilpres nanti tetap diikuti dua paslon saja. Alasannya, agar pilpres bisa berjalan 1 putaran saja. Belajar dari pengalaman pilpres sebelumnya yang melahirkan polarisasi, semoga mimpi banteng ini meleset ya…

Keinginan itu disampaikan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto usai menjadi pembicara Diskusi Menyongsong Pemilu 2024: Kesiapan, Antisipasi dan Proyeksi yang digelar Kedeputian Bidang Kebijakan Pembangunan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), di Jakarta, kemarin.

Kata dia, soal pilpres, PDIP siap bertarung berapa pun capres dan cawapres yang maju. Dua, atau tiga paslon, PDIP siap saja. Hanya saja, kata dia, politik itu harus melihat konteksnya. Saat ini, situasi ekonomi belum sepenuhnya pulih setelah dihantam pandemi. Di saat yang sama, ada ketidakpastian ekonomi global akibat perang Rusia-Ukraina. Teranyar, ada ketegangan di Laut China Selatan dan di Taiwan yang harus menjadi perhatian.

“Dalam kondisi ini, maka Indonesia memerlukan pelaksanaan Pilpres yang demokratis, cepat, kredibel, dan bagaimana memastikan hanya berlangsung satu putaran,” kata Hasto, dalam keterangan tertulisnya.

Mungkinkah? Politisi asal Yogyakarta itu mengatakan, pilpres satu putaran dan dengan dua paslon bisa terwujud apabila ada konsolidasi antar parpol. Selain itu, mendorong kerja sama parpol sehingga mengarah pada dua paslon. Kata dia, sekiranya yang muncul tiga atau empat Paslon toh pada pilpres putaran kedua pasti akan terjadi deal-deal politik baru.

“Jadi kenapa tidak membangun kesepahaman di depan saja,” kata Hasto.

Kata dia, ada yang berpendapat bahwa dua pasangan calon akan menghindarkan dari politik identitas. Kata dia, jangan dibawa mundur. “Mereka yang menggunakan politik identitas dan politik primordial, biasanya miskin kinerja, tidak punya prestasi, maka digunakan cara-cara yang tidak cerdas, tidak bijak, dan tidak membangun peradaban,” tuturnya.

Untuk itu, Hasto mengajak semua pihak meningkatkan kualitas demokrasi dengan menghindari narasi yang memecah belah. Kualitas Pemilu juga ditentukan oleh hasil, termasuk hasil dari kualitas pemimpin yang lahir melalui Pemilu.

“Semakin Pemilu diwarnai oleh narasi yang jauh dari keadaban publik, semakin buruk kualitas Pemilu,” ujar Hasto.

Bagaimana tanggapan parpol lain? Sekjen PPP, Arwani Thomafi berharap mimpi PDIP itu tidak terwujud di 2024. Kata dia, PPP mendorong pemilu nanti diikuti banyak paslon.

“Ini menguntungkan rakyat. Karena ada ruang untuk rakyat mendapatkan pemimpin terbaik juga semakin besar,” kata Arwani, kemarin.

 

Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera mengatakan, partainya ingin demokrasi Indonesia lebih sehat dari sebelumnya. Kata dia, hal itu akan terwujud kalau pilpres nanti muncul lebih dari dua pasang capres-cawapres.

“Kami akan memperjuangkan agar pilpres diikuti lebih dari dua paslon,” kata Mardani, kemarin.

Mardani lalu menceritakan Pilpres 2014 dan 2019 yang hanya diikuti dua paslon. Kata dia, dampak polarisasi masih terasa sampai sekarang. Karena masyarakat hanya dihadapkan dua pilihan. Ini yang membuat demokrasi tidak sehat.

Pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia Ujang Komarudin mengatakan, dengan ambang batas syarat nyapres atau presidential threshold 20 persen, sebenarnya bisa memunculkan 3 sampai 4 paslon. Saat ini sudah terbentuk tiga poros. Ketiga poros itu adalah KIB dengan personelnya Golkar, PAN, dan PPP.

Poros kedua adalah Gerindra dengan PKB yang sudah mendeklarasikan kerja sama. Poros ini kalau jadi, kemungkinan akan mengusung ketum kedua parpol itu sebagai capres-cawapres yaitu Prabowo dan Muhaimin Iskandar. Poros ketiga yang sedang melakukan penjajakan adalah NasDem, Demokrat, dan PKS. Terakhir, ada PDIP yang bisa saja mencalonkan capres sendiri tanpa berkoalisi.

Kata dia, pekerjaan rumah dari pemilu nanti adalah meminimalisir dampak polarisasi di masyarakat. Karena itu, ia berharap mimpi PDIP yang ingin pilpres hanya diikuti 2 paslon meleset. Kata dia, idealnya pilpres diikuti 3 atau 4 paslon. Dengan begitu, pemilu bisa menjadi ajang adu gagasan, ide, visi dan program.

“Pilpres sebelumnya kan dua pasang. Lalu terjadi polarisasi, nah kita kan tidak ingin seperti itu,” kata Ujang, tadi malam.

Ujang menambahkan, dengan tiga atau empat poros tak ada lagi yang berhadap-hadapan. Kalau hanya dua poros, yang terjadi saling berhadap-hadapan lagi. Kalau dibiarkan dua paslon, rakyat bisa berhadapan lagi. Bisa pecah lagi.

Karena itu, ia berharap masyarakat dapat mendorong para elite politik agar mengusung hingga tiga sampai empat pasangan calon. “Jadi rakyat juga punya banyak pilihan. Ada 270 juta jiwa rakyat Indonesia lebih, masa sih calon presidennya itu saja. Masa tidak ada pilihan yang lain,” pungkasnya. [BCG]

]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *