Kejutan! Nama Gus Halim Diabadikan Jadi Nama Anggrek Varietas Baru –

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Abdul Halim Iskandar mendapat kejutan.

Apa itu? Rupanya, nama Abdul Halim Iskandar diabadikan sebagai nama varietas baru anggrek di Lereng Gunung Arjuno, Malang, Jawa Timur.

Varietas anggrek baru bernama Dendrobium Abdul Halim Iskandar ini sudah mendapat sertifikat dari lembaga Royal Holticultural Society (RHS) yang berbasis di London.

“Pemberian nama anggrek ini tidak sembarangan. Yang berhak mendaftarkan hanya penyilangnya dan yang didaftarkan hanya di ke RHS London. Dan setiap pemberian nama harus konfirmasi ke yang bersangkutan,” ungkap H As’ari, owner PT Javina, pengelola Taman Arjuno di Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (29/6).

As’ari mengungkapkan, anggrek varietas baru tersebut indukannya berasal dari Papua yang disilangkan dengan anggrek khas Jawa Timur. Saat didaftarkan, anggrek tersebut sudah dalam kondisi berbunga.

“Istimewanya anggrek ini (Dendrobium Abdul Halim Iskandar) bunganya besar, warnanya bagus yakni kuning kecokelatan dan menjadi salah satu anggrek ciri khas Jawa Timur,” ungkap pria yang sudah berkecimpung di dunia anggrek sejak 2010 lalu itu.

Proses penyilangannya sampai jadi benih siap tanam berlangsung 1,5 tahun. Selanjutnya benih sampai berbunga sekitar 1,5 tahun. Jadi, lanjut As’ari, total dari penyilangan sampai berbunga membutuhkan  waktu sekitar 3 tahun.

“Jadi anggrek ini sudah saya silang sekitar 4 tahun, bukan tiba-tiba dan perlu waktu lama. Makanya anggrek harganya stabil,” ungkap As’ari.

Dia menambahkan, pengabadian nama Dendrobium Abdul Halim Iskandar pada salah satu varietas anggreknya juga merupakan bentuk apresiasi dan penghormatan atas perhatian dan komitmen Gus Halim, sapaan akrab Abdul Halim Iskandar, untuk mengembangkan Budidaya anggrek di desa-desa.

“Harapan kami dengan adanya semakin banyak tokoh masyarakat yang memiliki perhatian terhadap penganggrekan di Indonesia. Selain itu bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas serta produktivitas petani anggrek dan nilai perekonomian,” harapnya.

Dia menjelaskan, pihaknya juga melakukan kerja sama dengan sistem plasma tani yang memberdayakan masyarakat desa di sekitar lokasi.

Diharapkan, pemberdayaan ini semakin berkembang dan penyilang di wilayah lain bisa mengikuti, sehingga bisa untuk salah satu upaya pemberdayaan masyarakat.

“Sekarang ada sekitar 50 plasma. Bulan ini kita sedang kerjasama dengan pendamping desa untuk sinergi menambah petani plasma. Target kita tahun ini ada 100 petani plasma,” harap As’ari.

Sementara itu, Winartono Koordinator Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Kabupaten Malang mengungkapkan, sertifikasi varietas baru anggrek di Taman Arjuno ini sebenarnya telah dikeluarkan pada Sabtu (25/6) lalu. Varietas ini adalah anakan pertama yang diharapkan bisa dikembangkan.

“Sebenarnya sudah lama disiapkan oleh Taman Arjuno. Sudah lama ingin buat varietas baru dari laboratorium anggrek yang ada di situ. Kami dan teman-teman di sini sepakat kalau Gus Halim datang maka akan diabadikan jadi nama varietas baru,” ungkap Winartono.

Menanggapi namanya diabadikan sebagai nama anggrek varietas baru. Gus Halim berucap syukur dan berterima kasih kepada keluarga besar Perhimpunan Anggrek Indonesia atas kehormatan yang diberikan ini.

“Di luar dugaan, saya tak pernah bermimpi mendapat kehormatan ini, nama diabadikan sebagai nama anggrek varietas baru. Terima Kasih perhimpunan anggrek Indonesia, khususnya terima kasih kepada Bapak H. As’ari. Kehormatan ini saya terima dan saya jaga dengan penuh tanggung jawab. Terima kasih, Barakallah,” tuturnya.

 

Sebelumnya, Gus Halim menyatakan, peluang bisnis tanaman anggrek harus dimanfaatkan oleh desa-desa di daerah tertinggal. Anggrek merupakan tanaman tropis dan bisa tumbuh sempurna bila dikelola dengan baik di tanah pedesaan.

“Anggrek ini adalah urusan hobi yang berdampak pada kesejahteraan. Orang yang punya hobi sudah membudidayakan dan mengoptimalkan kapasitasnya dan kemudian pasarnya juga bagus, ini akan berdampak pada peningkatan perekonomian,” ujar Ketua PKB Jawa Timur ini.

Hal itu disampaikannya saat menghadiri Rembug Insan Anggrek Jawa Timur sekaligus peresmian Taman Arjuno di Desa Gunungrejo, Kabupaten Malang pada Minggu (26/6).

Menurut Gus Halim, budidaya anggrek memiliki nilai eksport yang tinggi. Pada tahun 2020, Indonesia telah mengekspor 11.7 juta tangkai tanaman anggrek dan 4,2 jutanya berasal dari Jawa Timur.

Oleh karena itu, dia pun menyatakan bakal membangun Desa Anggrek di sejumlah daerah tertinggal. Langkah ini sebagai upaya percepatan peningkatan ekonomi di daerah tertinggal. ■

]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *