Jangan Mau Hidup Rumit Tinggalkan 7 Hal Ini –

<p>Orang bijak bilang, hidup itu sederhana. Rumit atau tidaknya, sangat tergantung pada cara kita menyikapinya.</p>

<p>Psikolog Irma Gustiana mengatakan, masalah hidup hanya menyumbang 10 persen kerumitan hidup. 90 persennya, adalah reaksi kita.</p>

<p>Sebagai manusia, kita punya kecenderungan berpikir dengan bias kompleksitas. Sehingga, beberapa situasi bisa menjadi lebih rumit ketimbang&nbsp;biasanya.</p>

<p>&quot;Drama-drama hidup umumnya terjadi, karena kita selalu terikat dengan pola merumitkan segala sesuatunya. Ini sangat melelahkan. Inilah yang menyebabkan hidup sebagian orang menjadi tidak tenang, gampang tersulut amarah, dan terganggu secara mental,&quot; papar Irma via Instagram, Minggu (22/1).</p>

<p>Karena itu, psikolog yang berfokus pada&nbsp;<em>self growth&nbsp;</em>dan&nbsp;<em>parenting</em> <em>coach</em> ini menyarankan kita, untuk membingkai ulang kembali pikiran, dan memaknai setiap hal yang kita hadapi.</p>

<p>Karena sejatinya, hidup ini banyak memiliki ketidakpastian. Bahkan, kadang tak sesuai harapan.</p>

<p>&quot;Jangan coba-coba kendalikan semuanya, karena itu bisa membuat kita menderita,&quot; tutur Irma.</p>

<p>Mengutip penulis asal Kanada Marty Rubin, pendiri Klinik Psikologi Ruang Tumbuh ini mengatakan, kalau kita bisa menerima hidup sepenuhnya dengan segala ambiguitasnya, hal yang merumitkan tidak akan terjadi.</p>

<p>Dengan kata lain, kerumitan datang, jika kita tidak bisa menerima kenyataan hidup.</p>

<p>Irma pun menyarankan 7 hal yang harus ditinggalkan, agar hidup kita lebih plong alias&nbsp;tak terasa rumit. Berikut rinciannya:</p>

<p><strong>1</strong>. <strong>Berpikir</strong> <strong>untuk</strong> <strong>selalu</strong> <strong>menjadi</strong> <strong>sempurna</strong></p>

<p>Kalau kita berpikir tentang kesempurnaan tanpa keburukan apa pun, sesungguhnya kita sedang membebani pikiran sendiri. Ini melelahkan.</p>

<p>&quot;Tak apa sesekali melakukan kesalahan, karena dari hal itu, kita akan banyak belajar,&quot; ucap Irma.</p>

<p><strong>2</strong>. <strong>Selalu</strong> <strong>mengiyakan</strong> <strong>segala</strong> <strong>hal</strong> <strong>dan</strong> <strong>permintaan</strong> <strong>orang</strong> <strong>lain</strong></p>

<p>Kita&nbsp;mungkin tak&nbsp;suka penolakan. Karena itu, kita cenderung mengiyakan orang lain.</p>

<p>Padahal, tidak apa-apa kalau kita&nbsp;bilang &quot;nggak&quot; untuk beberapa hal.</p>

<p>Percayalah, itu tidak&nbsp;akan mengurangi nilai kebaikan yang pernah kita lakukan.</p>

<p><strong>3</strong>. <strong>Berpikir</strong> <strong>untuk</strong> <strong>selalu</strong> <strong>mengendalikan</strong> <strong>banyak</strong> <strong>hal</strong></p>

<p>Karena hidup banyak memiliki ketidakpastian, kita&nbsp;berusaha bekerja keras membuat hal- hal menjadi terkendali, sesuai kehendak kita.</p>

<p>Ini akan membuat kita lelah. Sebab faktanya, &nbsp;ada hal- hal yang ternyata mengalir begitu saja, tanpa bisa kita kontrol.</p>

<p><strong>4</strong>. <strong>Berpikir</strong> <strong>bahwa</strong> <strong>hidup</strong> <strong>selalu</strong> <strong>harus</strong> <strong>positif</strong> <strong>dan</strong> <strong>menyangkal</strong> <strong>pengalaman</strong> <strong>atau</strong> <strong>emosi</strong> <strong>negatif</strong></p>

<p>Apa pun bentuk perasaan yang dialami adalah valid, benar terasa dan dirasakan. Jadi, tak usah disangkal.</p>

<p>&quot;Ketika kita&nbsp;menyangkal perasaan negatif, kita justru akan menjadi lelah. Terima perasaan itu, proses rasanya dan pelan-pelan mencari solusi,&quot; tutur Irma.</p>

<p><strong>5.&nbsp;Membiarkan</strong> <strong>diri</strong> <strong>terus</strong> <strong>menerus</strong> <strong>dikendalikan</strong> <strong>orang</strong> <strong>lain</strong></p>

<p>Irma berpendapat, atas nama menyenangkan orang lain, kita kerap membiarkan diri&nbsp;tersakiti dan terbebani. Padahal, kita&nbsp;tahu, bahwa waktu, tenaga dan pikiran kita&nbsp;terbatas.</p>

<p>&quot;Inilah yang membuat hidup menjadi penuh drama&nbsp;melelahkan,&quot; ucapnya.</p>

<p><strong>6. Terjebak dalam Complexity Bias</strong></p>

<p><em>Complexity</em> <em>bias</em> adalah pikiran yang terprogram untuk membuat beberapa situasi menjadi lebih rumit, ketimbang&nbsp;sebenarnya.</p>

<p>Terbiasa secara otomatis membuat hal menjadi rumit, sangat melelahkan.</p>

<p>Padahal daftar <em>things</em> <em>to</em> <em>do</em>&nbsp;Anda, sebenarnya ditujukan untuk mempermudah menjalani hari-hari. Bukan untuk membebani.</p>

<p>Jadi, nikmati saja semua prosesnya. Pelan-pelan.</p>

<p><strong>7.&nbsp;Melekat</strong> <strong>pada</strong> <strong>hubungan</strong> <strong>toxic</strong></p>

<p>Kehilangan atau melepaskan, pastinya sangat kita hindari. Tetapi, ketika ada hal-hal yang perlu dievaluasi ketika kita&nbsp;lebih sering merasakan kesedihan ketimbangkebahagiaan, atau lebih sering dimanipulasi dibandingkan menjadi diri sendiri, melepaskan adalah langkah terbaik.</p>

<p>Jika tidak, tentunya akan terasa sangat melelahkan. ■</p> . Sumber : Berita Lifestyle, Kuliner, Travel, Kesehatan, Tips

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *