Jadi PM Malaysia Kesabaran Anwar Ibrahim Akhirnya Berbuah Manis –

Kesabaran Anwar Ibrahim di panggung politik Malaysia selama 24 tahun, akhirnya berbuah manis. Kemarin, Anwar ditunjuk dan dilantik oleh Raja Malaysia, Al-Sultan Abdullah Sultan Ahmad Shah, menjadi Perdana Menteri (PM) ke-10 Malaysia.

Upacara pelantikan Anwar digelar di Istana Negara, sekitar pukul 5 sore. Di acara itu, Anwar mengenakan baju formal Melayu hitam dengan peci warna senada dan sampin (semacam sarung) berwarna emas. Pemimpin Partai Pakatan Harapan berusia 75 tahun itu, tersenyum lebar saat dipanggil untuk mengambil sumpah jabatan.

Anwar lalu mengucapkan sumpah di depan Raja Abdullah. Hadir para pejabat tinggi seperti Sekretaris Pemerintah, Hakim Agung, Jaksa Agung, dan para pemimpin dari Pakatan Harapan dan Barisan Nasional.

“Saya, Anwar Ibrahim, setelah ditunjuk untuk menjabat sebagai Perdana Menteri, bersumpah dengan sungguh-sungguh bahwa saya akan dengan jujur memenuhi tugas itu dengan segala upaya saya, dan bahwa saya akan mengabdikan kesetiaan saya yang sebenarnya kepada Malaysia,” ucap Anwar.

Tak lama setelah pelantikan, Anwar mengumumkan jabatan barunya sebagai Perdana Menteri. Ia berjanji akan memikul amanah sebagai Perdana Menteri dengan penuh tawadhu dan bertanggung jawab. “Tugas berat ini akan saya pikul berpandukan kehendak dan nurani rakyat bersama tim,” tulis Anwar, di akun Facebook miliknya.

Terpilihnya Anwar jadi Perdana Menteri ini mengakhiri kebuntuan politik Malaysia selama lima hari setelah Pemilu pada Sabtu lalu. Dalam Pemilu itu, tak ada partai atau koalisi yang mendapat suara mayoritas.

Pakatan Harapan, partai yang dinahkodai Anwar, memang menang Pemilu dengan meraih 82 kursi di parlemen. Namun, tak cukup untuk menjadi mayoritas, yaitu minimal 112 kursi. Saingannya adalah kubu Perikatan Nasional yang dipimpin eks PM Malaysia Muhyiddin Yassin, yang memperoleh 73 kursi. Sisanya Barisan Nasional mendapat 30 kursi.

Kubu Pakatan Harapan dan Perikatan Nasional awalnya saling klaim telah memenangkan pemilu. Situasi makin buntu setelah Barisan Nasional menyatakan tidak akan mendukung pemerintahan yang dipimpin Muhyiddin maupun Anwar.

Raja Malaysia sempat memanggil Anwar dan Muhyiddin ke Istana. Namun, tak ada kesepakatan yang dicapai. Raja kemudian mengadakan pertemuan khusus dengan para sultan lain. Setelah pertemuan itu, Raja mengumumkan Anwar jadi Perdana Menteri.

Pengawas Rumah Tangga Kerajaan Istana Negara, Datuk Seri Ahmad Fadil Syamsuddin mengatakan, pengangkatan Anwar itu sudah sesuai konstitusi. Penunjukan Anwar dilakukan setelah Raja mempertimbangkan pendapat para Penguasa Melayu yang mengadakan pertemuan khusus di Istana Negara. Rupanya, pelantikan ini dilakukan setelah Anwar berhasil menjalin koalisi dengan Barisan Nasional yang dipimpin Ismail Sabri Yaakob.

Pelantikan Anwar ini mengakhiri penantiannya selama 24 tahun untuk memimpin Malaysia. Karier politik Anwar sudah bersinar di awal 90-an saat usianya masih 40-an. Posisinya menanjak hingga menjadi Wakil Perdana Menteri pada 1993-1998. Namun, karier politiknya jatuh setelah dipecat Mahathir Mohamad pada 1998. Anwar lalu dijebloskan ke penjara setelah dituduh melakukan sodomi pada 1999.

Anwar dibebaskan pada 2004. Setelah bebas, dia mendirikan Partai Keadilan Rakyat dan memimpin koalisi oposisi Pakatan Harapan. Namun, di 2015 sampai 2018, dia kembali dipenjara atas kasus sodomi lainnya.

 

Pada 2018, Anwar bebas. Di Pemilu saat itu, Anwar berkoalisi dengan Mahathir untuk menjatuhkan Najib Razak. Setelah Pemilu, Mahathir menjadi Perdana Menteri dan istri Anwar, Wan Azizah, menjadi wakilnya. Mahathir berjanji akan mundur setelah dua tahun menjadi PM dan menyerahkan kursi Perdana Menteri ke Anwar. Namun, janji tersebut tak ditunaikan. Mahathir memang mundur, tapi koalisi dibubarkan, sehingga kursi Perdana Menteri berhasil diambil Muhyiddin Yassin pada 2020.

Pada Pemilu 2022, Mahathir, Muhyiddin Yassin, dan Anwar sama-sama maju. Anwar mendapat dukungan rakyat dan lolos ke parlemen. Sedangkan Mahathir harus gigit jari karena kalah dalam pemilihan.

Beberapa saat setelah dilantik, Anwar membagikan video di Instagram saat Presiden Jokowi menelepon untuk mengucapkan selamat kepadanya. “Pemerintah, atas nama seluruh rakyat Indonesia, saya ingin mengucapkan selamat atas terpilihnya Yang Mulia sebagai Perdana Menteri ke-10 Malaysia,” kata Jokowi, dalam sambungan telepon tersebut.

Anwar pun menyampaikan terima kasih kepada Jokowi. Pemimpin Koalisi Pakatan Harapan itu mengatakan, Jokowi menjadi kepala negara yang pertama menghubunginya. “Terima kasih Presiden Indonesia Bapak Joko Widodo yang menjadi kepala negara pertama yang menghubungi saya mengucapkan tahniah,” ujarnya.

Kepada Jokowi, Anwar juga menyampaikan bahwa Indonesia merupakan sahabat sejati. Dia pun berharap di bawah kepemimpinannya, hubungan bilateral Indonesia dan Malaysia dapat ditingkatkan.

“Saya tegaskan, Indonesia merupakan sahabat sejati Malaysia dan saya mengharapkan hubungan dagang dan bisnis, investasi, budaya, dan isu pekerja dapat dipertingkatkan. Persahabatan kedua-dua semestinya diperkukuh,” tutur dia.

Pendiri dan Ketua Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal menyebut, terpilihnya Anwar bisa semakin mengeratkan kerja sama antara Indonesia dan Malaysia. Pasalnya, Anwar merupakan sahabat Indonesia sejak lama. Di masa senang dan susah, Anwar tetap memiliki banyak teman di Indonesia.

Kata Dino, Anwar juga kerap datang ke Indonesia. Menjalin silaturahmi dengan para pemimpin politik maupun non-politik. Pemimpin di dalam pemerintahan maupun di luar pemerintahan.

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri itu menambahkan, terpilihnya Anwar juga jadi pertanda bahwa hubungan antara Indonesia dan Malaysia akan semakin dekat. “Saya tidak melihat adanya isu yang bakal mengganggu hubungan kedua negara di masa pemerintahan Anwar,” ujar Dino.

Mungkin, tantangannya akan lebih besar mengenai kawasan. Yaitu, bagaimana Indonesia dan Malaysia menangani berbagai masalah. Seperti krisis di Myanmar maupun krisis Rohingya, yang juga berdampak bagi Indonesia dan Malaysia. “Indonesia dan Malaysia tentu ingin mendorong krisis Myanmar bisa terselesaikan dan demokrasi dapat kembali berjalan,” katanya.

Jadi, lanjutnya, Indonesia dan Malaysia perlu lebih memperkuat ASEAN. Apalagi Indonesia adalah Ketua ASEAN tahun depan. “Dan mungkin juga ada inisiatif global, yang Indonesia dan Malaysia bisa bekerja sama,” tandasnya. [BCG/PYL]

]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Generated by Feedzy