Haji Bagi Yang Mampu –

Rukun Islam yang kelima ini tengah populer dibahas di masyarakat. Bahkan tidak sedikit yang menjadi pendakwah dadakan. Pembahasannya ngalor-ngidul, dari keterbatasan kuota karena terdampak pandemi Covid-19, sampai soal penggunaan dana haji untuk infrastruktur.

Ruwet. Padahal, isi dari rukun Islam itu adalah tunaikan haji bagi yang mampu. Jadi, ikhtiarkan saja niat tulus ini dan serahkan kepada pengelola.

Itu mukadimah saja. Ini bukan soal itu. Tapi tentang perjalanan simulasi manasik haji yang dilakukan anak saya. Dia masih TK. Tapi semangatnya luar biasa menjalani simulasi rangkaian ritual haji. Apalagi saat melempar jumroh. Bertenaga.

Mengenakan ihram lengkap dengan masker, menandakan memang suasananya sedang tidak baik-baik saja. Di setiap sudut berdiri Satgas Covid-19. Siaga menegur jika terjadi pelanggaran protokol kesehatan.

Anak TK ini nurut jika aturannya jelas. Tapi, siap-siap diprotes emak-emaknya jika aturan mainnya tidak adil. Misalnya diselak, hingga mengantre terlalu lama. Termasuk ketika melakukan simulasi Tawaf.

Sekalipun ini simulasi, Ka’bah tetap menjadi daya tarik. Magnet spot berfoto orang tua dengan anaknya. Padahal, Ka’bah hanya satu dan selalu diputari oleh peserta yang tidak sedikit. Jika berhenti berputar, akan membuat kacau barisan. Terbayang kan.

Tidak ada keributan memang, karena semua memang memiliki kepentingan yang sama. Memiliki jepretan terbaik di ponsel berkamera yang dipegang masing-masing orang tua. Ya, setiap anak didampingi satu orang tua. Kebanyakan emak-emak.

Pekikan Labbaik Allahumma Labbaik, tetap nyaring terdengar dari anak-anak yang lama-lama hafal dan meninggikan suaranya. Masker tidak mengurangi volume suara. Saya perhatikan, anak-anak begitu menikmati rangkaian ritual ini.

Bahkan, anak saya tidak hanya berjalan memutari Ka’bah, tapi berlari. Terkadang jalan mundur ala Michael Jackson. Salah memang. Tapi, ya namanya juga anak-anak, dan ini juga simulasi. Yang terpenting pengalaman dan mimpinya untuk bisa menunaikan rukun Islam yang kelima ini.

Saya pun tertular euphoria itu. Mau juga naik haji. Semangat mencari rezeki supaya bisa ke Tanah Suci. Melakukan penantian yang cukup lama setelah resmi mendaftarkan diri. Konon, antreannya bisa lebih dari 22 tahun. Ya Allah semoga diberikan panjang umur, amien.

Bisa jadi, simulasi ini dan dinamika yang terjadi di haji sebenarnya di tahun ini sama. Soal aturan main siapa yang bisa ke sana, dan kesabaran penantian luar biasa ke Tanah Suci. Kalau sudah aturan main, sepertinya ya sudah diserahkan kepada wasitnya saja. Pemerintah Kerajaan Arab Saudi.***

Penulis: Boy Sakti Hapsoro, Wartawan Rakyat Merdeka

]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *