Disentil Menko Airlangga Proyek Masela Mandek, Produksi Migas Melorot –

Proyek Blok Masela belum juga menemui titik terang kapan bakal dimulai. Padahal, investor yang mau mengelola proyek gas Lapangan Abadi di Maluku ini cukup banyak.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyoroti lamban­nya pengembangan proyek gas Lapangan Abadi, Blok Masela di Maluku.

Menurut Airlangga, sejak ren­cana pengembangan (Plan of Development/PoD) disetujui Pemerintah pada 16 Juli 2019, hingga kini proyek yang dikelola Inpex Corporation tersebut tidak mengalami kemajuan signifikan.

Airlangga menilai, untuk mengebut pengembangan Blok Masela, setidaknya diperlukan berbagai upaya untuk mendor­ong minat investor. Antara lain, memberikan kemudahan dalam berinvestasi hingga insentif, baik fiskal maupun nonfiskal.

“Kami melihat beberapa project, termasuk Blok Masela ini kelihatannya mengalami keterlambatan. Apakah regulasi-regulasi yang ada cukup efektif dalam mendorong? Bila belum efektif, tentu perlu dilakukan revisi,” kata Airlangga dalam acara International Convention and Indonesian Upstream Oil and Gas (IOG) 2022, kemarin.

Ketua Umum Partai Golkar ini melihat, mandeknya Blok Masela menjadi salah satu con­toh produksi minyak dan gas (migas) bumi Indonesia yang juga mengalami penurunan.

Pasalnya, Pemerintah telah menargetkan produksi minyak 1 juta barel minyak per hari. Sayang, produksi saat ini kian menurun.

Selain itu, kata Airlangga, Pe­merintah juga terus mendorong transisi energi yang mengarah kepada energi baru terbarukan. Hal ini merupakan keniscayaan yang harus dihadapi bersama, agar investasi di hulu migas tetap berjalan kondusif.

“Target tersebut sangat ber­pengaruh pada penerimaan negara di APBN, dan ekspor Indonesia,” ucapnya.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto mengakui, investor yang mau mengelola Blok Masela sebenarnya cukup banyak.

Baru-baru ini, kata Dwi, peru­sahaan migas asal China, Petro­China Company Ltd, menyatakan berminat berinvestasi di Blok Masela. Dengan demikian, su­dah ada empat perusahaan yang tertarik menggarap megaproyek migas tersebut. Selain Pertamina, Petronas, dan ExxonMobil.

“Tapi masih menunggu hasil studi masing-masing kontraktor dari blok itu,” ungkapnya.

 

Dwi menjelaskan, ditargetkan sudah ada keputusan final pe­rusahaan yang masuk ke Blok Masela untuk menggantikan Shell akhir tahun ini.

Direktur eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan menga­takan, proyek Blok Masela ini berkali-kali diubah POD-nya, serta perencanaan pengerjaan­nya. Kondisi inilah yang berakibat pada mundurnya Shell dari proyek Blok Masela.

“Ini memberikan dampak luar biasa, adanya perubahan terhadap pelaksanaan proyek. Setahu saya, POD-nya belum ditandatangani Pemerintah. Yang terakhir ini masih direvisi lagi,” ujarnya.

Tak hanya itu, Blok Masela juga merupakan proyek yang membu­tuhkan dana cukup banyak. Calon investor pengganti Shell di Blok Masela harus merogoh kocek sekitar 1,4 miliar dolar AS.

Besaran investasi ini belum termasuk kebutuhan pendanaan sebesar 6,3 miliar dolar AS untuk lima tahun pertama pengembangan sebagai modal belanja.

Selain itu, dengan adanya penambahan proyek Carbon Capture Utilization & Storage (CCUS) pada proyek Masela, juga terdapat potensi penam­bahan investasi sekitar 1,2-1,4 miliar dolar AS lagi.

Mamit juga meminta agar SKK Migas bertindak tegas, segera ada keputusan yang bisa diambil terkait kelanjutan proyek ini.

SKK Migas sebagai garda ter­depan pengelolaan industri hulu migas Indonesia harus bekerja keras untuk mencarikan solusi, agar proyek ini bisa segera berjalan.

“Tetap harus berusaha. Kan punya target. Mereka ini tulang punggung dan garda terdepan pengelolaan hulu migas. Jangan teralu banyak kegiatan seremonial, tetapi bagaimana bisa menarik investasi di sektor hulu migas,” ucapnya. [KPJ]

]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Generated by Feedzy