Begalnya Jadi Saksi, Yang Dibegal Jadi Tersangka Pak Mahfud, Kok Begini… –

Kasus pembegalan yang terjadi di Lombok Tengah, NTB pada Minggu lalu, jadi sorotan masyarakat luas. Pemicunya, polisi menetapkan korban begal sebagai tersangka karena menewaskan 2 dari 4 pelakunya. Sementara begalnya yang selamat menjadi saksi. Warganet pun mencolek Menkopolhukam Mahfud MD, hukum kok begini ya Pak..

Kasus ini bermula ketika Amaq Sinta (34) hendak mengantar makanan dan air hangat untuk keluarga yang tengah menjaga ibunya yang dirawat di rumah sakit di Lombok Timur, Minggu dini hari. Menggunakan sepeda motor, ia melintas di Jalan Raya Desa Ganti, Kecamatan Praya Timur, Lombok Tengah.

Di tengah jalan itu, tiba-tiba ia dipepet dua pelaku begal. Spontan, ia melakukan perlawanan. Tak lama, dua pelaku begal lain datang membantu. Namun, keempat pelaku begal itu berhasil ditumbangkannya seorang diri. Naas, dua pelaku begal yakni P (31) dan OWP (21) tewas di tempat. Dua lainnya, WH dan HO melarikan diri.

Polres Lombok Tengah yang menyidik kasus ini, kemudian menangkap Amaq dan menetapkannya sebagai tersangka. Dalam gelar perkara pada Selasa lalu, Wakapolres Lombok Tengah Kompol I Ketut Tamiana mengatakan, Amaq dikenakan Pasal 351 KUHP ayat (3) yaitu penganiayaan yang mengakibatkan hilang nyawa seseorang.

Dua pelaku begal lain diamankan dan menjadi saksi kasus tersebut. Dalam kasus ini, penyidik menyita empat buah senjata tajam dan tiga unit motor yang diduga digunakan oleh S dan para pelaku begal.

Kasus ini kemudian jadi heboh. Sejak Rabu lalu, berita terkait selalu ramai dikomentari warganet. Masyarakat setempat sampai melakukan aksi meminta polisi membebaskan Amaq. Polisi kemudian menangguhkan penahanan Amaq, meski statusnya masih tersangka dan kasusnya terus berjalan.

Kabid Humas Polda NTB, Kombes Artanto mengatakan, kasus ini diambil alih karena menjadi atensi pimpinan dan agar penanganannya lebih maksimal. Kedua pelaku begal yakni Wahid dan Holidi yang sebelumnya ditahan di Polres Lombok Tengah, kini juga telah dipindahkan ke tahanan Mapolda NTB. Statusnya pun berubah menjadi tersangka.

 

Kabareskrim, Komjen Agus Andrianto sampai ikut menyoroti kasus ini. Ia minta kasus ini dihentikan. Ia khawatir, kalau kasus ini terus berlanjut masyarakat akan jadi takut untuk melawan pelaku kejahatan.

“Hentikanlah menurut saya. Nanti masyarakat menjadi apatis, takut melawan kejahatan. Padahal kejahatan harus lawan bersama,” kata Agus, kemarin.

Agus mengaku, telah memerintahkan Kapolda NTB untuk menggandeng tokoh masyarakat, tokoh agama untuk menentukan layak atau tidaknya kasus tersebut diproses. “Penegakan hukum yang tidak dapat legitimasi masyarakat mencederai rasa keadilan. Untuk apa ditegakkan,” katanya.

Sampai tadi malam, netizen masih mantengin kasus tersebut. Cuitan berisi dukungan kepada Amaq terus bermunculan. Warganet juga mengulas kasus serupa pada 2018. Saat itu, dua remaja bernama Ahmad Rafiki dan Mohamad Irfan Bahri ditodong dengan senjata tajam di Jembatan Layang Summarecon, Bekasi. Namun, keduanya melakukan perlawanan. Satu begal tewas dalam perjalanan ke rumah sakit.

Polisi awalnya sempat menetapkan Irfan sebagai tersangka. Namun, kasus ini sempat terdengar oleh Mahfud MD. Ia menelpon Presiden Jokowi. Irfan yang akhirnya dibebaskan kemudian malah mendapat penghargaan dari polisi.

Akun @rahman46 ingat betul kejadian serupa. “Nah sekarang malah terjadi lagi, Prof. Ngeri juga kalau jadi korban begal kita nggak boleh melawan dan harus pasrah mati,” kicaunya, sambil mention akun Mahfud MD.

Akun @suryachandra menyampaikan hal serupa. “Harusnya aparat melihat contoh kasus Pak Mahfud dulu,” ujarnya.

Aktivis antikorupsi Emerson Yuntho ikutan komentar. “Kasus korban begal jadi tersangka, setidaknya memberikan pesan ke publik. Jika kamu dibegal, jangan lawan apalagi membunuh, berikan hartamu dan ikhlaskan,” sindir @emerson_yuntho. [BCG]

]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *