Akan Hadiri KTT G20 Kedubes Rusia Di Jakarta Siap-siap Nyambut Putin –

Presiden Rusia Vladimir Putin berencana menghadiri secara langsung Konferensi Tingkat Tinggi Group of Twenty (KTT G20) di Bali, November nanti. Keputusan itu diambil sebagai bentuk penghormatan atas undangan Presiden Jokowi. 

Hal itu disampaikan Dubes Rusia untuk Indonesia Lyudmila Georgievna Vorobieva. Kata dia, Putin menerima dengan baik undangan Jokowi. Namun demikian, kedatangan Putin akan mempertimbangkan situasi keamanan global dan pandemi Covid-19.

“Tapi pada dasarnya, Presiden Putin ingin hadir secara langsung,” ungkap Vorobieva, dalam press briefing di kediamannya, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (8/9).

Saat ini, sambungnya, Kedubes Rusia di Jakarta sudah menjalankan sejumlah persiapan untuk menyambut kedatangan Presiden Putin. Kendati demikian, diplomat wanita itu tidak menjelaskan secara rinci mengenai persiapan yang sedang dilakukannya.

Selanjutnya, seperti yang sudah disampaikannya sebelumnya, Rusia mendukung berbagai prioritas yang akan dibawa Indonesia dalam pertemuan itu. Terutama pembahasan mengenai kondisi ekonomi global.

Bentuk dukungan Rusia dibuktikan dengan mengikuti berbagai kegiatan menyambut KTT G20. Salah satunya, Rusia mengirim dua musisinya untuk ambil bagian dalam acara budaya yang dihelat para Menteri Kebudayaan negara-negara G20.

“Acara itu akan diselenggarakan pada 12 September 2022 di Yogyakarta,” jelasnya.

 

Dalam acara itu, nantinya akan ditampilkan pagelaran musik budaya dari berbagai negara anggota G20.

“Saat ini sudah dipastikan, dua musisi Rusia itu akan tampil di acara tersebut,” ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, pihaknya sedang mempersiapkan kunjungan Ketua Parlemen Rusia Vyacheslav Volodin. Kata dia, Volodin akan berpartisipasi dalam pertemuan antar parlemen negara anggota G20. Menurut agenda, pertemuan itu akan dilaksanakan di Jakarta bulan depan.

Siap Negosiasi

Sejumlah negara Asia tengah berlomba-lomba membeli minyak dengan harga lebih murah dari Rusia. Indonesia disebut-sebut akan mengikuti langkah tersebut. Dubes Vorobieva mengaku, Rusia siap berbicara dan bernegosiasi jika Indonesia juga tertarik beli minyak.

Tapi, Vorobieva mengaku belum tahu apakah Pemerintah Indonesia akan memprioritaskan membeli minyak dari negaranya. “Saya tidak bisa memprediksi soal itu,” ucapnya.

Saat ini, ada upaya dari negara-negara ekonomi maju anggota Group of Seven (G7) untuk membatasi penjualan minyak Rusia.

Terkait itu, jika memang Indonesia membeli minyak Rusia, harganya akan ditentukan dalam proses negosiasi, yang akan dituangkan dalam kontrak. Jadi, sambungnya, semuanya terserah dari Pemerintah Indonesia.

“Karena memang banyak yang menginginkan sumber energi dari Rusia,” jelasnya.

 

Uni Soviet Tak Buruk

Pada kesempatan itu, Vorobieva mengungkapkan pandangan pribadinya terkait peran mantan Presiden Uni Soviet yang belum lama ini meninggal, Mikhail Gorbachev.

Vorobieva menganggap, Gorbachev ikut andil dalam pecahnya Uni Soviet. Menurut Vorobieva, Uni Soviet adalah era masyarakat hidup dalam kestabilan. Hingga akhirnya terpecah dan menjadi tragedi bagi banyak orang.

“Saya seorang diplomat muda saat Gorbachev masih jadi pemimpin,” ungkap Vorobieva.

Dia tak memungkiri, Uni Soviet bukanlah masyarakat yang ideal. Namun tidak seburuk yang digambarkan Barat.

“Kami menikmati kehidupan yang stabil, aman, bangga dengan negaranya sendiri, yakin atas masa depannya sendiri. Kami menikmati fasilitas kesehatan gratis, dan memiliki nilai-nilai yang patut dibanggakan sebagai suatu bangsa,” tutur mantan Dubes Rusia untuk Malaysia itu.

Vorobieva menilai, Gorbachev seharusnya bisa melakukan hal yang lebih baik. Terutama dalam menangani tantangan dan krisis yang terjadi usai Uni Soviet runtuh. Menurut Vorobieva, saat itu ada pihak-pihak lain yang memanfaatkan situasi dari tindakan Gorbachev.

Dia menilai, Gorbachev telah melakukan kesalahan. Dirinya yakin, terpecahnya Uni Soviet adalah tragedi bagi semua orang di era itu. Tahun 1990-an, sambungnya, merupakan periode tragis bagi Rusia dan negara-negara pecahan Uni Soviet lainnya.

“Menurut pandangan saya, apa yang terjadi sekarang di Ukraina juga merupakan buah tindakan Gorbachev,” tutupnya.

Sebelumnya, Putin menyebut runtuhnya Uni Soviet sebagai Malapetaka Geopolitik Terbesar di Abad Ke-20. Uni Soviet runtuh di era Gorbachev menjadi Presiden, yaitu pada 1991. Banyak warga Rusia, khususnya pada generasi di umur 40 tahun ke atas, masih mengenang kejayaan yang dimiliki Uni Soviet sebelum runtuh.

Putin adalah salah seorang di antara banyaknya warga Rusia yang menjadikan pencapaian di era Uni Soviet sebagai panutan.

Gorbachev mengembuskan napas terakhirnya pada Selasa (30/8) di usia 91 tahun akibat sakit parah. Namun, tak seperti pendahulunya Presiden Boris Yeltsin, Gorbachev tidak diberikan upacara pemakaman kenegaraan. Putin bahkan tidak hadir di pemakaman Gorbachev pada Sabtu (3/9). ■ 

]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *