Youth Nutritiative 2023 Remaja Cermat Memilih Makanan Rendah Gula Garam Dan Lemak –

<p>Kelompok remaja yang tergabung dalam Health Heroes Facilitator (HHF) melatih teman sebayanya yang telah terpilih sebagai agent of change dalam aksi perbaikan peraturan label pangan.</p>

<p>Kegiatan ini mendukung adanya penyediaan makanan dengan kategori lebih sehat dan lebih rendah kandungan Gula, Garam, &amp; Lemak (GGL).</p>

<p>Lokakarya ini merupakan bagian dari rangkaian Kompetisi Ide Remaja &ldquo;Youth Nutritiative&rdquo; oleh Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN) Indonesia yang digelar tiga hari, 21-23 Mei 2023.</p>

<p>GAIN, beranggotakan para remaja yang berperan aktif untuk perbaikan gizi remaja.</p>

<p>Health Heroes Facilitator merupakan komunitas remaja yang dibentuk GAIN Indonesia dan RISE Foundation untuk peningkatan kapasitas literasi gizi sehingga mampu untuk melakukan edukasi dan advokasi label pangan dan gizi.</p>

<p>Remaja Indonesia mengalami beban gizi ganda yang terdiri atas kelebihan dan kekurangan gizi, termasuk defisiensi mikronutrien.</p>

<p>Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa ada 6,8 persen remaja usia 13-18 tahun yang kurus, 32 persen remaja usia 15-24 tahun yang anemia dan prevalensi berat badan lebih dan obesitas sebesar 16,0 persen pada remaja usia 13-15 tahun dan 13,5 persen pada remaja usia 16-18 tahun.</p>

<p>Salah satu faktor penyebab terjadinya trend kenaikan prevalensi berat badan berlebih dan obesitas adalah buruknya pola makan remaja.</p>

<p>Perilaku memilih makanan yang lebih sehat bagi dirinya masih rendah di kalangan remaja termasuk kebiasaan membaca label pangan, terutama informasi gizi untuk memilih pangan kemasan yang lebih bergizi.</p>

<p>Data dari Survei Konsumsi Makanan Individu (SKMI) 2014 menunjukkan bahwa prevalensi orang Indonesia dalam konsumsi gula garam lemak berdasarkan batas anjuran sesuai permenkes No.30/2013.&nbsp;</p>

<p>Lima&nbsp;dari 100 orang menkonsumsi gula &gt;50 g/hari, 53 dari 100 orang mengkonsumsi garam &gt;2.000 mg/hari dan 27 dari 100 orang mengkonsumsi lemak &gt;67 g/hari.</p>

<p>Sekitar 150&nbsp;peserta dari berbagai wilayah di Indonesia telah terpilih dan berproses dalam proses ideasi.</p>

<div style=”page-break-after: always”><span style=”display: none;”>&nbsp;</span></div>

<p>&ldquo;Untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat khususnya remaja yang sering mengkonsumsi makanan olahan dalam kemasan dapat dipahami dari label pangan yang tercantum dalam kemasan pangan,&quot; ujar Perwakilan dari Kementerian Kesehatan, Ika Purnamasari, dalam keterangannya, Jumat (26/5).</p>

<p>Ika menjelaskan, label pangan sebagai media informasi kandungan pangan yang bersangkutan seharusnya dapat memberikan informasi yang jelas kepada konsumen terkait asal, keamanan, mutu, kandungan gizi dan keterangan lain yang di perlukan.</p>

<p>&quot;Dengan membaca label pangan olahan akan mempengaruhi remaja sebelum memutuskan membeli atau mengkonsumsi pangan olahan tersebut,&quot; ujar Ika.</p>

<p>Sementara itu, Tria Giri Ramdani, perwakilan dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat juga menambahkan, kegiatan seperti ini bisa membimbing para remaja dalam memutuskan dalam mengkonsumsi makanan.</p>

<p>&quot;Diperlukan pelatihan atau program lain yang bisa memperluas wawasan para remaja dalam segala segmen ilmu,&quot; ujar Tria.■</p> . Sumber : Berita Lifestyle, Kuliner, Travel, Kesehatan, Tips

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *